Rabu, 12 Agustus 2015

0 Menggantung Jas Merah



Yogyakarta, 12 Agustus 2015

“Those who cannot remember the past are condemned to repeat it”
- George Santayana, filsuf akhir abad 19 Spanyol-

Jumat, 07 Agustus 2015

0 Kyai Syare’at dan Kyai Ma’rifat



Blitar, 7 Agustus 2015


Pastinya saya masih sangat kurang ilmu untuk menulis artikel ini, bahkan bisa dikatakan saya kurang ajar telah berani menuliskan pemikiran saya. Sebenarnya saya takut jika dikatakan suul adab sama kyai-kyai karena tulisan ini tidak akan jauh dari nama kyai-kyai sepuh NU. Kyai-kyai yang selalu saya ta’dhimi dan teladani, yang selalu saya harapkan ridhonya guna manfaat dan barokah ilmu saya kelak. Termasuk juga Gus-gus muda NU yang mengambil peran penting dalam kelangsungan NU kedepannya.
 

Selasa, 04 Agustus 2015

0 Topeng



Blitar, 5 Agustus 2015

Millennium dua ini mengajakku untuk terus berjalan merasakan majunya peradaban IPTEK dan berkurangnya IMTAQ. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) abad ini sungguh luar biasa yang bisa dengan mudah membunuh Iman dan Taqwa (IMTAQ) manusia. Dulu aku masih merasakan kerasnya didikan orang tua, guru maupun teman. Tetapi kebahagiaan bisa aku raih dengan tanpa pemanjaan dari gadget. Cukup dengan pemanjaan kelereang, aku, dia dan teman-teman berbahagia. Sungguh sangat terasa perbedaan dulu dan sekarang.

Minggu, 07 Juni 2015

0 Ideologi & Persaudaraan




Yogyakarta, Ahad 7 Juni 2015
 
Keraguan saya timbul setelah saya meihat fakta bahwa kakak-adik, paman-bibi, kakek-nenek pun melakukannya. Satu darah, satu asa, satu karsa sudah tidak dipedulikan:  Apakah islam itu memang benar agama pembawa kebenaran? apakah islam itu memang agama keselamatan? Apakah islam itu pembawa perdamaian?

Jumat, 05 Juni 2015

3 Sisi lain: Wanita-wanitaku




Saya bukan feminin, bukan pula pengamat gender. Tapi saat ini saya sedang belajar mendayung perahu di atas lautan pemikiran. Saya harus mengenali arus dan ombak agar terus bisa menjalankan perahu. Kadang harus kuat ketika melawan arus yang berlawanan arah, kadang bersyukur dengan arus yang searah. Misalnya saat ini, saya harus berusaha keras membuka layar untuk sebuah arus lawan arah yang sedang melanda. Ya, wanita.

Minggu, 19 April 2015

3 Exist, Bukan Berarti Ada

http://imgkid.com


Sesuatu yang tidak nampak dan tidak nyata dengan panca indera adalah nihil, berarti kosong adalah tidak berarti dan tidak “ada”. Semua yang disebut eksis berarti ada di depan mata dapat dilihat dengan panca indera. Exist mendahului esensi, keberadaan mendahului esensi daripada adanya sesautu itu. Misalkan keberadaan benda yaitu pena. Bagi kaum eksistensialis pena itu disebut ada karena dia ada dan lebih dulu daripada esensinya. Tidak begitu penting apa esensi selanjutnya dari pena itu. Bentuk pena yang panjang, bertinta dan bermerk adalah eksistensi sebuah pena dalam kenyataan. Terlepas esensi pena itu selanjutnya apakah digunakan untuk menulis atau mengganjal meja atau mainan adalah urusan belakangan, karena esensi tersebut dipengaruhi oleh eksistensi pena tersebut.

Selasa, 31 Maret 2015

4 Metafisika Tuhan


Cosmology, theology, anthropology

Bagaimana Tuhan bisa dibela dengan akal? bagaimana Tuhan dirasionalkan? Apakah Tuhan bisa dicapai dengan akal manusia? dan Apakah Tuhan itu ada? Pertanyaan-pertanyaan itu sudah umum dikalangan filsuf. Alam, Tuhan dan manusia adalah objek abadi filsafat sejak abad klasik. Tuhan menjadi objek filsafat yang telah mengambil banyak perhatian filsuf selain karena metafisik juga Prima Causa, logosetrisme atau doktrinisasi atau ontologisasi dan menurut Heidegger harus taken for granted. Amstrong mengatakan bahwa Tuhan itu bersifat history-anthropologis, dan sifat seperti itu tidaklah filsafati. Seorang filsuf haruslah berpikir secara radikal dan mendasar, mecari penyebab sampai dengan akar-akarnya. Menurut Kant sebuah objek filsafat harus dicari dengan metode a priori yaitu metode yang mencari dan menelusuri sebab-sebabnya. Begitulah serang filsuf harus bertindak, meskipun itu adalah masalah teologi.

Senin, 30 Maret 2015

2 Filsafat Islam



Persia modern adalah Iran dan Irak yang kita ketahui sebagai raksasa Timur Tengah. Persia juga meilki peradaban yang sangat kuno, meliputi peradaban yang sebelum dan sesudah hellenisme. Beragam tulisan tentang peradaban Persia di kemukakan, termasuk dalam perkembangan filsafat Islam. Tulisan ini akan mengangkat sisi lain Persia modern, tetapi bukan berarti saya seorang Syiah. Sebagai mahasiswa saya mencoba memaparkan sisi lain dbalik stigma negatif kaum Sunni kepada kaum Syiah dalam kebesaran Iran di Timur Tengah.

Kamis, 12 Maret 2015

2 Tempat-tempat “Surga” Blitar


Yogyakarta, 12 Maret 2015

Sebenarnya tulisan ini saya ajukan untuk memenuhi “tuntutan” akan kelangsungan kegiatan akademik di Universitas tempat saya mencari ilmu. Harap maklum jika tulisan ini tidak mengacu pada tema blog saya yaitu tulisan yang berkutat pada perenungan dan pemahaman saya. dalam tulisan ini akan saya paparkan uraian singkat tentang tempat wisata di kota kelahiran saya, Blitar. (info lebih lanjut buka ( "ra ketang" salam ).

Jumat, 06 Maret 2015

2 Catatan Kebangsaan

Indonesia Surga Dunia
Yogyakarta, 6 Maret 2015

Keindahan Indonesia tidak luput dari semua perjalanan yang telah dilalui. Dari Majapahit sampai Nyayogyakarto Hadiningrat, dari kerajaan sampai republik, dari Nusantara sampai Indonesia. perjalaan hidup Nusantara sampai sekarang memang tidak mudah, semua kejadian alam telah ikut memoles keindahan negeri seribu mitos ini. Gemah Ripah Loh Jinawi  mengungkapkan begitu banyak

Kamis, 05 Maret 2015

0 Tugas dulu

UIN SUNAN KALIJAGA

Sabtu, 28 Februari 2015

2 Tuhan dan Hamba



Yogyakarta, 24 Februari 2015


 “Terserah Allah meletakkanku di neraka atau surga. Kita tidak berhak menuntut balasan dari-Nya. toh, kebaikan kita pun berasal dari-Nya”. -Kalimat itu masih terngiang di telingaku. Mungkin benar jika Allah sudah menurunkan hidayah maka panca indera yang juga makhluk-Nya akan ikut berdzikir.-

Kamis, 19 Februari 2015

4 Itulah Islam!



Yogyakarta, 19 februari 2015.

“islam sulit dengan teori,  tetapi mudah jika sudah mencoba”. Pernyataan ini adalah kesimpulan pemahaman saya mengenai islam yang kemungkinan besar ada pemahaman lain yang mendekati kebenaran. sebenarnya tulisan saya ini tidak jauh dari pengalaman yang telah saya dapatkan ketika saya tidak sengaja membaca essay Emha Ainun Nadjib dan juga pengajian bersama beliau kemaren malam.

2 "Ra Ketang" Salam



Ra ketang salam

Yogyakarta, 19 februari 2015

Assalamua’alaikum wr. Wb...

Dimulai kemaren malam tiba-tiba saya dapat ilham ingin mengotak-atik kembali blog yang dulu saya buat untuk memenuhi tugas salah satu mata pelajaran ketika Aliyah. Kurang lebih 2 tahun 3 bulan saya tidak pernah memoles bahkanmelihat blog saya, kini saya mulai sadar bahwa blog itu penting guna “tempat curhat” bagi pemahaman dan perenungan-perenungan saya selama kuliah. Ini tulisan pertama saya setelah hibernasi 2 tahun 3 bulan. Dan saya yakin kualitas tulisan saya ini masih kalah dengan jauh dengan rekan-rekan blogger lain. Tapi apa salahnya mencoba? Okey, Tetapi jika tak kenal maka tak sayang, jadi lebih baik saya memperkenalkan diri saya dulu. Saya dilahirkan di kota sang proklamator kemerdekaan dan juga presiden pertama Indonesia. Ada yang perdebatan antara Blitar dan Surabaya. Tapi saya yakin kota kelahiran saya adalah kota kelahiran presiden pertama juga, karena rumah beliu yang kini dimuseumkan seakan menjadi jawaban sejarah. Tepatnya di ujung timur laut jawa timur, yaitu Blitar. Kota yang menjadi saksi bisu pemuda-pemuda PETA menyuarakan pendapatnya beberapa hari sebelum kemerdekaan dilangsungkan. Saya dilahirkan dari keluarga yang masih menjunjung tinggi khasanah tradisi beragama, keluarga sederhana yang memberikan saya banyak pelajaran hidup.

Minggu, 14 Oktober 2012

2 AGAMA ISLAM 10 HADIST MENUNTUT ILMU BESERTA ARABNYA


Firman Allah Azza Wa jalla:
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)…” (Ali ‘Imran:18)
Maka lihatlah bagaimana Alah SWT memulai dengan diriNya, keduanya dengan malaikat dan ketiganya dengan orang-orang ahli ilmu.
Dengan ini cukuplah bagimu (untuk mengetahui) kemuliaan, keutamaan, kejelasan dan kelebihan orang-orang ahli ilmu’

Allah Ta’alan berfirman:
“…… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…..” (Al Mujadilah:11)
Ibnu Abbas ra berkata : “Para ulama memperoleh beberapa derajat di atas kaum mu’minin dengan tujuh ratus derajat yang mana antara dua derajat itu perjalanan lima ratus tahun.
Dan Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:
“….. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama….” (Fathir:28)
“….. Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab” (Ar Rad:43)
” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip……” (An Naml:40)
” Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh,……” (Al Qashash:80)
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (Al Ankabut:43)
“………. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri) ……….” (An Nisa’ : 83)
” Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian takwa ……..” (Al A’raf:26)
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami……..” (Al A’raf:52)
” maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka),……..” (Al A’raf:7)
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu ………” (Al Ankabut:49)
“Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara” (Ar Rahman:3-4)
.
Hadist-hadits

Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan maka Allah menjadikannya ia pandai mengenai agama dan ia diilhami PetunjukNYa [Muttafaq 'alaih]

Ulama itu adalah pewaris para Nabi [Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban]

“sesuatu yang di langit dan bumi itu memohonkan ampunan bagi orang ‘alim (pandai)” [Abu Darda']

sesungguhnya hikmah (ilmu) itu menambah orang yang mulia akan kemuliaan dan mengangkat hamba sahaya sehingga ia mencapai capaian raja-raja. [Abu Na'im dalam Al Hilyah, Ibnu Abdil Barr dalam Bayaul Ilmi, dan Abd. Ghani dalam Adabul Muhaddits dari hadits Anas dengan sanad yang lemah]

Dua pekerti tidak terdapat di dalam orang munafik, yaitu perilaku yang baik dan pandai dalam agama [H.R. At Tirmidzi dari Abu Hurairah, ia mengatakan hadits gharib]

Seutama-utama manusia adalah orang mu’min yang’alim (pandai) yang jika ia dibutuhkan maka ia berguna, dan jika ia tidak dibutuhkan maka ia mencukupkan dirinya.” [Al Baihaqi dalam Syu'bul Iman mauquf pada Abu Darda' dengan sanad yang lemah]

Iman itu telanjang, pakaianya adalah takwa, perhiasannya adalah malu, dan buahnya adalah ilmu [Al Hakim dalam Tarikh Naisabur dari hadits Abu Darda' dengan sanad yang lemah]

Orang yang paling dekat dari derajat kenabian adalah ahli ilmu dan jihad (perjuangan). Adapun ahli ilmu maka mereka menunjukkan manusia atas apa yang dibawa para rasul, sedangkan ahli jihad maka mereka berjuang dengan pedang (senjata) mereka atas apa yang dibawa oleh para rasul [Abu Na'im dalam Fadhlul 'alim al 'afif 'dari hadits Ibnu Abbas dengan sanad yang lemah.]

sungguh matinya satu kabilah itu lebih ringan dari pada matinya seorang ‘alim [Ath Thabrani dan Ibnu Abdil Barr dari hadits Abu Darda']

Manusia itu adalah barang tambang seperti tambang emas dan perak. Orang-orang pilihan mereka di masa Jahiliyah adalah orang-orang pilihan mereka di masa Islam apabila mereka pandai [Muttafaq 'alaih]

Pada hari Kiyamat tinta ulama itu ditimbang dengan darah orang-orang yang mati syahid [Ibnu Abdil Barr dari Abu Darda'dengan sanad yang lemah]

Barang siapa yang memelihara empat puluh buah hadits dari As Sunnah atas ummatku sehingga ia menunaikannya kepada mereka maka aku akan menjadi pemberi syafa’at kepadanya dan saksinya pada hari Kiyamat [Ibnu Abdil Barr dalam al 'Ilm dari hadits Ibnu Umar dan ia'melemahkannya.]

Barang siapa dari ummatku menghafal empat puluh buah hadits maka ia bertemu dengan Allah ‘Azza wa Jalla pada hari Kiyamat sebagai seorang faqih yang ‘alim [Ibnu Abdil Barr dari hadits Anas dan ia melemahkannya]

Barang siapa memahami tentang agama Allah ‘Azza Wa Jalla maka Allah Ta’ala mencukupinya akan sesuatu yang menjadi kepentingannya dan Dia memberinya rizki dari sekiranya ia tidak memperhitungkannya [Al Khathib dalam Tarikh dari hadits Abdullah bin Juz - Az zabidi dengan sanad yang lemah]

Allah ‘Azza wa Jalla memberi wahyu kepada Ibrahim as : “Hai Ibrahim, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui, Aku senang kepada setiap orang yang pandai [Dituturkan oleh Ibnu Abdil Barr sebagai komentar]

Orang pandai adalah kepercayaan Allah Yang Maha Suci di atas bumi [Ibnu Abdil Barr dari Mu'adz dengan sanad yang lemah]

Dua golongan dari ummatku apabila mereka baik maka manusia baik, dan apabila mereka rusak maka manusia rusak, yaitu para pemegang pemerintahan dan para ahli fiqh [Ibnu Abdil Barr dan Abu Na'im dari hadits Ibnu Abbas.]

Apabila datang hari kepadaku padanya saya tidak bertambah ilmu yang mendekatkan saya kepada Allah ‘Azza Wa Jalla maka saya tidak mendapat berkah pada terbitnya matahari hari itu [Ath Thabrani dalam Al Ausath dan Abu Na'im dalam Al Hilyah, dan Ibnu Abil Barr dalam Al 'Ilm]

Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah dari shahabatku [At Tirmidzi dari hadits Abu Umamah]

Kelebihan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti kelebihan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang-bintang [Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa'i dan Ibnu Hibban, dan itu sepotong dari hadits Abu Darda' yang terdahulu]

Pada hari Kiyamat tiga macam orang memberi syafa’at yaitu: para Nabi, para ulama kemudian orang-orang yang mati syahid [Ibnu Majah dari hadits Utsman bin 'Affan dengan sanad yang lemah]

Tidaklah Allah Ta’ala disembah dengan sesuatu yang utama dari pada pemahaman terhadap agama. Sungguh seorang faqih itu lebih berat atas syaithan dari pada seribu orang ahli ibadah. Setiap sesuatu itu mempunyai tiang, dan tiang agama ini adalah fiqh [Ath Thabrani dalam Al Ausath, Abu Bakar Al Ajiri dalam Fadhlul 'ilmi, dan Abu Na'im dalam Riyadhatul Muta'allimin dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah]

Sebaik-baik agamamu adalah yang termudahnya, dan sebaik-baik ibadah adalah fiqh (pemahaman) [Ibnu Abdil Barr dari hadits Anas dengan sanad yang lemah]

Keutamaan mu’min yang ‘alim atas mu’min yang ahli ibadah adalah dengan tujuh puluh derajat [Ibnu Adi dari Abu Hurairah dengan sanad yang lemah]

Sesungguhnya kamu menjadi dalam masa yang banyak ahli fiqhnya, sedikit qurra’ (ahli baca Al Qur’an) nya dan ahli pidatonya, sedikit orang yang meminta-minta dan banyak orang yang memberinya. Amal padanya adalah lebih baik dari pada ilmu. Dan akan datang kepada manusia masa yang sedikit ahli fiqhnya, banyak juru pidatonya, sedikit orang yang memberinya, banyak orang yang meminta-minta. Ilmu pada masa itu lebih baik dari pada amal [Ath Thabrani dari hadits Hizam bin Hakim dari pamannya, ada yang mengatakan dari ayahnya, sanadnya lemah]

Antara orang yang ‘alim dan orang yang beribadah adalah seratus derajat, antara setiap dua derajat itu ditempuh kuda pacuan yang dilatih selama tujuh puluh tahun [Al Ashfihani dalam At Targhib wat Tarhib, dari lbnu Umar dari ayahnya]

Ditanyakan : “Wahai Rasulullah, amal-amal apakah yang lebih utama ?” Beliau bersabda : “Ilmu tentang Allah ‘Azza Wa Jalla” Lalu ditanyakan : “IImu apakah yang engkau kehendaki ?”. Beliau SAW bersobds : “Ilmu tentang Allah ‘Azza Wa Jalla”. Lalu dikatakan kepadanya : “Kami bertanya mengenai amal sedangkan engkau menjawab mengenai ilmu”. Maka beliau SAW bersabda : “Sesungguhnya amal sedikit disertai ilmu (mengetahui) tentang Allah itu berguna dan banyaknya amal serta bodoh mengenai Allah itu tidak berguna [Ibnu Abdil Barr dari hadits Anas dengan sanad yang lemah]

Allah Yang Maha Suci poda hari Kiyamat membangkitkan hamba-hamba kemudian Dia membangkitkan ulama kemudian Dia berfirman : “Wahai golongan ulama, sesungguhnya Aku tidak meletakkan ilmuKu padamu kecuali karena Aku mengetahui tentang kamu, dan Aku letakkan ilmuKu padamu agar Aku tidak menyiksamu, pergilah karena Aku telah memberi ampunan kepadamu”. [Ath Thabrani dari hadits Abu Musa dengan sanad yang lemah]
.
Atsar-atsar
Adapun atsar (kata-kata shahabat), Ali bin Abi Thalib ra berkata kepada Kumail :
“Hai Kumail, ilmu itu lebih utama dari pada harta karena ilmu itu menjagamu sedangkan kamu menjaga harta. Ilmu adalah hakim, sedangkan harta adalah yang dihakimi. Harta menjadi berkurang dengan dibelanjakan, sedangkan ilmu menjadi berkembang dengan dibelanjakan (diberikan kepada orang lain)”.
Ali ra juga berkata :
“Orang yang ‘alim itu lebih utama dari pada orang yang berpuasa, berdiri ibadah malam dan berjuang. Apabila seorang ‘alim meninggal maka berlobanglah dalam Islam dengan suatu lobang yang tidak tertutup kecuali oleh penggantinya”.
Dan ia ra berkata dalam bentuk syair (nazham) :

Tidak ada kebanggaan kecuali bagi ahli ilmu, sesungguhnya mereka di atas petuniuk, dan mereka penunjuk orang yang minta petuniuk. Nilai setiap orang adalah sesuatu yang meniadikannya baik, sedangkan orang-orang bodoh itu musuh ahli ilmu. Maka carilah kemenangan kamu dengan ilmu, dengon ilmu itu kamu hidup selamanYa, munusiq itu mati, sedangkan ahli ilmu itu hidup
.
Abul Aswad berkata : “Tidak ada sesuatu yang lebih utama dari pada ilmu. Para raja itu memerintah manusia (orang kebanyakan), sedangkan para ahli ilmu itu memerintah para raja”.
Ibnu Abbas ra berkata : “Sulaiman bin Dawud as disuruh memilih antara ilmu, harta dan kerajaan maka beliau memilih ilmu, lalu beliau diberi harta dan kerajaan”.
Ibnul Mubarak ditanya : “Siapakah manusia itu” Ia menjawab : “Para ulama”. Ditanyakan lagi : “Siapakah para raja itu ?”. Ia menjawab : “Orang-orang yang zuhud”. Ditanyakan lagi : “Siapakah orang rendahan itu ?” Ia menjawab : “Orang-orang yang memakan dunia dengan agama”.
Ia tidak memasukkan orang yang tidak berilmu ke golongan manusia karena kekhususan yang membedakan manusia terhadap seluruh hewan adalah ilmu. Maka manusia adalah manusia yang menjadi mulia karena ilmu. Kemuliaan itu bukan karena kekuatan dirinya karena unta itu lebih kuat dari padanya. Dan bukan karena besarnya, karena gajah itu lebih besar dari padanya. Dan bukan karena beraninya karena binatang buas itu lebih berani dari padanya. Bukan karena makannya karena lembu itu lebih besar perutnya dari pada perutnya. Dan bukan karena bersetubuhnya karena burung pipit yang paling rendah itu lebih kuat untuk bersetubuh dari padanya. Bahkan manusia itu tidak dijadikan (tidak diciptakan) kecuali karena ilmu.
Fathul Maushuli rahimahullah berkata : “Bukankah orang sakit apabila dicegah makan, minum dan obat maka ia mati ?’,. Mereka (orang-orang) menjawab : “Ya”. Ia berkata : “Demikian juga hati, apabila dicegah dari padanya hikmah dan ilmu selama tiga hari maka hati itu akan mati”. Ia benar’karena makanan hati adalah ilmu dan hikmah, dan dengan keduanyalah hidupnya hati sebagaimana makanan tubuh adalah makanan.
Barangsiapa yang tidak mendapat ilmu maka hatinya sakit sedangkan matinya itu pasti. Tetapi ia tidak merasakannya karena cinta dan sibuk dengan dunia itu mematikan perasaannya sebagaimana takut itu kadang-kadang meniadakan sakitnya luka seketika, meskipun luka itu masih ada. Apabila kematian telah menghilangkan bebanan-bebanan dunia maka ia merasakan kebinasaannya dan ia menyesal dengan sesalan yang besar namun sesalan itu tidak berguna baginya.
Itu seperti perasaan orang yang aman dari takutnya, dan orang yang sadar dari mabuknya terhadap lukaJuka yang dideritanya dalam keadaan mabuknya atau dalam keadaan takut. Maka kita mohon perlindungan kepada Allah pada hari dibukanya tutup. Sesungguhnya manusia itu tidur,’apabila mati maka mereka jaga (bangun).
Al Hasan rahimahullah berkata : “Tinta ulama itu ditimbang dengan darah syuhada, maka tinta ulama itu unggul atas darah syuhada”.
Ibnu Mas’ud ra berkata : “Wajib atasmu untuk berilmu sebelum ilmu itu diangkat, sedangkan diangkatnya ilmu adalah matinya perawi-perawinya. Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu sebagai syuhada’ itu senang dibangkitkan oleh Allah sebagai ulama karena kemuliaan ulama yang mereka lihat. Sesungguhnya seseorang itu tidak dilahirkan sebagai orang yang berilmu, namun ilmu itu dengan belajar”.
Ibnu Abbas ra berkata : “Mendiskusikan ilmu pada sebagian malam lebih saya sukai dari pada menghidupkan malam itu (dengan shalat dan sebagairlo : pent)”. Demikian juga dari Abu Hurairah ra dan Ahmad bin Hambal rahimahullah.
Al Hasan berkata mengenai firman Allah Ta’ala : wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat” (Al Baqarah : 201). Bahwasanya kebaikan di dunia itu adalah ilmu dan ibadah, sedangkan kebaikan di akhirat adalah syurga.
Ditanyakan kepada sebagian hukama : “Barang apakah yang selalu mengikuti (pemiliknya) ?”. Ia berkata : “Barang yang mana apabila kapalmu tenggelam maka kamu berenang bersamanya, yaitu ilmu”.
Dan ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tenggelamnya kapal adalah hancurnya badan karena mati.
Sebagian mereka berkata : “Barang siapa mengambil hikmah (ilmu) sebagai kendali maka manusia menjadikannya sebagai pemimpin. Dan barang siapa mengetahui hikmah maka ia dipandang oleh semua mata dengan penghormatan”.
Asy Syafi’i ra berkata : “Termasuk kemuliaan ilmu adalah setiap orang yang dikatakan berilmu walaupun mengenai sesuatu yang remeh maka ia bergembira dan barang siapa yang (dikatakan) tidak memiliki ilmu maka ia bersedih”.
Umar ra berkata : “Wahai manusia, wajib atasmu untuk berilmu. Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memiliki selendang yang dicintaiNya. Barangsiapa menuntut satu bab dari ilmu maka Allah menyelendanginya dengan selendangnya. Jika ia berbuat dosa maka ia agar memperbaikinya tiga kali agar selendangnya itu tidak dilepas dari padanya, meskipun dosanya itu berkepanjangan sehingga ia meninggal”.
Al Ahnaf rahimahullah berkata : “Ulama itu hampir-hampir sebagai Tuhan, dan setiap kemuliaan yang tidak dimantapkan oleh ilmu maka akhirnya menjadi hina”.
Salimbin Abil Ja’d berkata:”Tuanku membeliku dengan tiga ratus dirham dan ia memerdekakan saya”. Lalu saya berkata : Dengan apakah saya bekerja ?”. Maka saya bekerja dengan ilmu dan tidak genap setahun bagiku sehingga datanglah amir Madinah kepadaku dan saya tidak mengizinkan baginya”.
Az Zubair bin Abu Bakar berkata : “Ayahku di Irak berkirim surat kepadaku, “wajib atasmu berilmu. Jika kamu fakir maka ilmu itu menjadi hartamu. Dan jika kamu kaya maka ilmu itu menjadi keindahan bagimu”.
Demikian itu dihikayatkan juga dalam wasiyat-wasiyat Luqman kepada anaknya, ia berkata :
“Hai anakku, duduklah pada ulama dan merapatlah kepada mereka dengan kedua lututmu karena sesunguhnya Allah Yang Maha Suci menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah dengan hujan dari langit”.
Sebagian hukama’ berkata : “Apabila orang’alim meninggal maka ia ditangisi oleh ikan di air, dan oleh burung di udara, ia hilang tetapi sebutannya tidak dilupakan penyebutannya.
Az Zuhri rahimahullah berkata : “Ilmu jantan, dan tidak menyintainya kecuali orang laki-laki yang jantan”.
 

sederhana Copyright © 2011 - |- Template created by Badrus Soleh - |- Powered by Blogger Templates